Usia, genetika, dan adanya kondisi medis yang mendasari semuanya telah dianggap sebagai faktor risiko kritis untuk mengembangkan demensia. Tapi bagaimana dengan jumlah gigi pasien yang hilang?

Rekomendasi Swab Test Jakarta

Semakin banyak penelitian telah mulai perlahan menghubungkan titik-titik antara kehilangan gigi dan penurunan kognitif, dengan para ilmuwan menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan untuk menjelaskan fenomena ini. Kehilangan gigi dapat mempengaruhi jenis makanan yang dapat dikunyah dengan nyaman, berpotensi menciptakan kekurangan nutrisi yang mempengaruhi kesehatan otak. Selain itu, risiko penyakit gusi yang lebih tinggi akibat kehilangan gigi juga dapat berkontribusi pada peningkatan risiko demensia.

Dalam penelitian terbaru yang dipimpin oleh Bei Wu di Rory Meyers College of Nursing di New York University, para peneliti melakukan meta-analisis untuk memetakan hubungan antara kehilangan gigi dan penurunan kognitif secara lebih komprehensif.

Tim menganalisis data yang dikumpulkan dari panel studi sebelumnya yang melibatkan sekitar 34.000 peserta, hampir 5.000 di antaranya didiagnosis dengan masalah kognitif.

Wu dan rekan menemukan bahwa individu dengan kehilangan gigi 1,48 kali lebih mungkin untuk mengembangkan masalah kognitif dan memiliki risiko 1,28 lebih tinggi untuk didiagnosis dengan demensia. Tim juga menemukan bahwa semakin banyak gigi yang hilang, semakin tinggi risiko demensia, dengan setiap kehilangan gigi tambahan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif antara 1,1 dan 1,4 persen. Bersama-sama, temuan ini mendukung hipotesis para peneliti bahwa kehilangan gigi dapat digunakan untuk memprediksi penurunan kognitif.

Pada catatan positif, memiliki gigi palsu ditemukan untuk menghilangkan hubungan antara kehilangan gigi dan demensia. “Temuan kami menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan mulut yang baik dan perannya dalam membantu menjaga fungsi kognitif,” kata Wu.

Swab Test Jakarta yang nyaman