Pertanyaan di atas sesungguhnya serupa horrornya dengan pertanyaan “Kapan nikah?” atau “Kapan dapet kerjaan?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis ini cuma perihal sementara saja untuk memainkan perannya.

Sebab mana mungkin seorang anak SMA bakal jadi  dibuat malu, takut, atau grogi disaat mendengar atau meraih pertanyaan seperti ini; “Sudah hingga manaskripsimu hari ini?” toh dia kan masih SMA.

Sebenarnya di semester awal sewaktu saya masih kuliah dan cengengesan dulu pun jikalau saya mendengar kata skripsi, hal itu sepertinya tak terlampau mengakibatkan saya stress, apalagi tidak dapat tidur semalaman sebab memikirkan judul skripsi, Oh no!! serupa sekali tidak yak.

Yang saya pikirkan sementara itu hanyalah tentang “Ini pun bakal berlalu” persis seperti salah satu judul cerita terhadap buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3! dari Ajhn Brahm.

Dalam buku selanjutnya saya menyimpulkan bahwa seluruh sesungguhnya bakal berlalu, juga kesulitan-kesulitan yang bakal dihadapi, jadi jangan terlampau dibikin pusing. Hakuna matata atau there’s nomor worries deh pokoknya.

Hari demi hari berlalu, dan sesungguhnya benar adanya bahwa ini pun bakal berlalu, juga terhadap skripsi kedokteran. Meski dibikin pusing namun kelanjutannya skripsi saya udah berlalu begitu saja, tanpa terasa. Dan sejauh ini saya udah terbebas dari beban pertanyaan “Sudah hingga mana skripsimu hari ini?”.

Namun bicara perihal skripsi, ada satu hal yang tiba-tiba mengakibatkan saya lagi mengingat masa-masa sulitnya menyusun skripsi sementara dulu. Hal selanjutnya adalah disaat saya melihat beberapa berita perihal mahasiswa yang nekat mengakhiri hidupnya lantaran kesulitan untuk merampungkan skripsinya.

Parahnya adalah sebelum saat saya merasakan pahitnya menyusun skripsi, saya justru jadi bahwa mereka yang depresi kemudian bunuh diri karena skripsi adalah mahasiswa yang kuatir menghadapi kesulitan, imannya gak kuat, dan payah.

Hal seperti itu adalah asumsi saya sementara dulu. Sebab sehabis saya merasakan sulitnya masa-masa menyusun skripsi dan melihat perihal mereka yang bunuh diri sebab depresi tugas skripsi, secara naluri perasaan saya jadi berubah jadi jelas dan enggan menyalahkan tidak baik atau tidaknya kelakuan seperti itu.

Bagi saya mengkaji kuatnya iman, kebolehan atau pendirian seseorang tak lagi saya libatkan di dalam melihat perihal seperti ini. Bahkan disaat melihat banyaknya komentar warganet menanggapi berita-berita perihal mahasiswa yang bunuh diri sebab skripsi, hal itu jadi mengakibatkan saya berpikir bahwa mereka terlampau tega sekali.

Sebab tanpa basa-basi, dengan mudahnya warganet menuliskan kalimat-kalimat yang menyudutkan atau menyalahkan kelakuan si pelaku bunuh diri. Ambilah semisal jika berkomentar seperti ini;

Memang sederhananya adalah sebab warganet yang berkomentar bukanlah si pelaku bunuh diri tersebut, toh mungkin jalan dan kisah hidup yang tengah dihadapi antara pelaku dan warganet yang berkomentar sesungguhnya berbeda. Namun bukan hal tak mungkin jikalau salah satu pengalaman hidup seseorang dengan orang lainnya dulu punya kemiripan.

Sebab tak mungkin juga jikalau di antara warganet yang berkomentar menghakimi perihal tersebut, tidak ada satupun yang dulu merasakan pahit-pahitnya masa menyusun skripsi? mustahil! dan saya percaya jikalau beberapa dari mereka tentu dulu merasakannya.

Hanya saja mereka enggan berpikiran hal itu secara serius, toh itu pun udah berlalu bagi mereka dan dengan suksesnya mereka dapat melalui masa-masa sulitnya bergelut dengan skripsi.
Memang coba merubah langkah pandang seseorang terhadap suatu perihal tidaklah mudah, namun perihal perihal ini saya bakal sedikit bercerita perihal masa-masa di mana saya dulu dibikin kacau sebab skripsi.

Ketika saya berada di masa-masa kacau sebab skripsi, bagi saya Dunia terlampau tak sudi jelas perihal keadaan saya yang tengah kesulitan itu. Saya harus menghadapi dua dosen pembimbing yang keinginannya berbeda-beda, kerap kali dospem satu berharap revisi saya harus seperti ini, dan dospem dua saya jadi berharap saya harus seperti itu.

Hal itu jelas mengakibatkan saya stres, belum lagi revisi yang saya terima jadi mempunyai saya kepada masalah yang makin kacau. Ibaratnya adalah ada revisi di di dalam revisi, dan berulang kali hal ini terjadi. Menghadapi perihal seperti ini bukanlah perihal bagaimana mengakibatkan skripsi sebagus mungkin dengan lakukan penelitian yang seakurat mungkin.

Melainkan sejauh mana kita dapat menegaskan dua orang dospem yang kadang tak jelas maunya bagaimana? Ini pun bukan seutuhnya menyalahkan sifat dospem yang kadang membingungkan.

Toh mana ada sih dospem yang idamkan mahasiswa bimbingannya meraih nilai tidak baik disaat disidang? mereka justru idamkan mahasiswa bimbingannya meraih nilai “A” dari penguji, dan hal itu mengakibatkan mereka bangga.

Bahkan mereka berupaya untuk hindari mahasiswa bimbingannya dari perintah “Ganti judul!” sehabis nampak dari area sidang propsal.

Namun di dalam masa penyusunan skripsi inilah yang kadang mengakibatkan seseorang jadi ini bagaikan akhir yang tidak baik di dalam hidupnya, disaat dosen pembimbing menyebutkan BAB sekian harus revisi lagi sementara sementara udah mepet ke jadwal sidang, atau apalagi penguji menyebutkan information tidak valid, Wow.

Meski pengalaman saya di dalam mengakibatkan skripsi tak terlampau menyeramkan, namun saya jelas bagaimana rasanya jadi mahasiswa yang terpaksa menunda jadwal sidangnya sebab beberapa kendala, apalagi saya jelas perihal mahasiswa yang gagal wisuda th. itu sebab judul skripsinya tetap ditolak, atau penguji menemukan kesalahan di dalam karya ilmiah selanjutnya sewaktu sidang berlangsung.

Kenapa saya jelas meski tak turut mengalaminya? Ya, saya jelas sebab perihal selanjutnya jadi anggota di dalam perjalanan hidup beberapa rekan saya yang tidak dapat lulus dengan saya di sementara yang sama.

Dalam masa-masa depresi sebab skripsi inilah, tiap-tiap orang bakal punya tindakan yang berbeda-beda, dan sukar untuk memaksakan ia harus seperti ini atau itu. Alhasil, bagi mereka yang jadi menyerah, kemudian mengakhiri seluruh nya juga hidupnya adalah langkah yang tersisa.

Bahkan saya dulu mendengar cerita rekan saya perihal salah satu mahasiswa abadi jadi kurang waras sebab tugas kelanjutannya tak kunjung selesai.

Bagi mereka yang terlampau berpikiran sepele masalah ini tentu bakal bicara bahwa skripsi bukanlah hal yang mengerikan. Kenapa?

Karena mereka tak jelas bahwa sesungguhnya bukan skripsilah yang sesungguhnya mengakibatkan seseorang jadi depresi. Melainkan ada sebuah reaksi yang nampak disaat seseorang jadi depresi sebab hal tersebut, yakni rasa malu, contohnya seperti ini;

Seseorang bakal jadi malu disaat 4-6 bulan sementara yang diberikan untuk sistem penyusunan skripsi ternyata tak kunjung tertanggulangi olehnya
Seseorang bakal jadi malu disaat teman-temannya bersiap untuk sidang, sementara skripsinya sendiri pun tak kujung di-acc atau datanya belum valid
Seseorang bakal jadi malu disaat teman-temannya bersiap mengukur baju toga, sementara ia belum juga lulus merampungkan skripsinya
Seseorang bakal jadi malu disaat teman-temannya diwisuda, sementara ia tidak
Dan seseorang dapat jadi depresi sebab rasa malu tersebut

 

Rasa malu inilah yang kerap kali mengakibatkan seseorang jadi depresi dan terlilit terhadap tindakan-tindakan yang tidak diharapkan.

Kenyataannya, benar bahwa skripsi bukanlah suatu hal yang harus diakui terlampau mengerikan, namun depresi sebab malu belum merampungkan skripsilah yang tak dapat diakui sebagai masalah sepele.

Sebab seseorang boleh berpikiran sepele hal tersebut, namun coba saja jikalau ia bertukar posisi sebentar saja dengan yang tengah merasakan depresi, rasanya terlampau naif jikalau ia menegaskan bahwa ia tak bakal depresi.

Ibaratnya bagaikan orang yang berandai-andai seperti ini “Jika saja saya yang jadi pejabat di negara ini, tentu saya tidak bakal lakukan korupsi” halaaah preeet!! wkwkkk. Salam.