Bahasa Cirebon memiliki ciri khas yang berbeda dengan bahasa Jawa dan bahasa Sunda, sehingga bahasa Cirebon merupakan salah satu identitas masyarakat setempat. Seperti masyarakat di wilayah Pantura Jawa Barat, seperti Cirebon, Indramayu dan sebagian Majalengka.

Jika dicermati, bahasa Cirebon cukup mirip dengan Brebes, Tegal, dan Purwokerto. Namun yang membedakan bahasa ini adalah pola pengucapannya yang tidak sepadat daerahnya.

Anda sedang membutuhkan Rental HIACE Cirebon dan sekitarnya? Bisa klik pada link tersebut.

Namun tahukah Anda, bahwa bahasa asli Kota Udang memiliki sejarah panjang dan fakta yang jarang dipahami secara umum. Di bawah ini adalah fakta yang ada di balik bahasa Cirebon yang jarang dipahami.

1. Pernah Menjadi Tren Bahasa Slang

Bahasa Cirebon memiliki sejarah yang unik, seperti yang terjadi pada tahun 1960-an. Pada saat yang sama, untuk meredakan pemberontakan di TII di Jawa Barat, bahasa Cirebon juga digunakan sebagai bahasa pembalikan lisan, tren pembalikan kata juga terjadi di masyarakat Malang.

Kata Kuham misalnya diambil dari bahasa Sunda yang artinya Bagaimana (bagaimana), kecuali Ris atau dari kata Sira (kamu), Yas dari kata aku, Daus atau dari kata Adus (mandi) hingga Pung dari kata polisi. , pada tahun yang sama. , sekitar tahun 1960-an, ketika New Delhi masih dipengaruhi oleh Sunda dan sedikit terpengaruh dengan Pembebasan Delhi.

Seperti kata “Sangat” yang sudah akrab dengan bahasa Cirebon, dan ternyata diadopsi dari bahasa Sunda yang berarti “Sangat” dimana kata tersebut menggambarkan keadaan yang dialami.

2. Memiliki Identitas sebagai Bahasa yang Mandiri

Sejak selesainya DI TII, bahasa Cirebon mulai menemukan jati dirinya sebagai bahasa yang merdeka dan diadopsi dari bahasa nenek moyangnya yaitu Merdeka. Sampai saat ini, bahasa Cirebon tidak dipengaruhi oleh bahasa Sunda atau bahasa Jawa.

Selain itu, penetapan bahasa Cirebon sebagai bahasa yang mandiri telah menunjukkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003. Menurut Kepala Pusat Bahasa Bandung, Muh.

Abdul Khak mencontohkan Perda, satu bahasa dapat diakui sebagai bahasa yang mandiri berdasarkan tiga hal. Pertama, bahasa didasarkan pada pengenalan oleh penutur; nomor dua, karena alasan politik; dan nomor tiga, berdasarkan linguistik.

3. Memiliki Kalimat Umpatan yang Khas

Jika Anda mengunjungi daerah Cirebon dalam waktu yang lama, maka Anda akan menggunakan bahasa yang khas, yaitu Kirik. Instan sendiri ditemukan di Delhi yang artinya anjing dan biasanya disebut sebagai bahasa sumpah untuk membunuh orang lain.

Atau sebagai kalimat yang menekankan pada suasana hati tertentu, seperti situasi menyerah, menekankan argumen dan menafsirkan keadaan darurat. “Ketika dihadapkan pada situasi yang sulit atau tidak menyenangkan, masyarakat Cirebon sekarang bersumpah demi kata,” jelasnya.

4. Diadopsi dari bahasa Sansekerta

Menurut hasil penelitian, sekitar 80 persen bahasa Cirebon merupakan serapan dari bahasa Sansekerta. Para ahli bahasa menyebut Cirebon sebagai bahasa Sanskerta kontemporer.

“Misalnya saya, saya, cemera, bahasa anak anjing (anjing) dan sekarang menjadi bahasa kehidupan sehari-hari bagi masyarakat Delhi. Kemudian kita mengacu pada arti kata bahasa Indonesia yang merujuk lebih dari satu orang, ” ucap Nurdin.

Menurut Nurdin, sebelumnya, Delhi tidak terpengaruh bahasa Jawa pada masa Amangkurat 2. Padahal, saat itu, bahasa Sansekerta digunakan untuk percakapan setiap masyarakat Cirebon.

“Setelah ditelusuri, ternyata asal mula bahasa Cirebon adalah bahasa Sansekerta. Dulu waktu saya masih sekolah di Sekolah Rakyat sampai kelas 3, bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa Cirebon. Bahkan dulu ada sekolah bahasa Jawa dan Sunda di sana. Cirebon,” kata Nurdin.

5. Memiliki 3 Jenis Dialek yang Unik dan Khas

Bahasa Cirebon memiliki 3 jenis dialek yang merujuk pada daerah yang disebut masyarakat. Dialek pertama adalah dialek Jawareh atau Jawa Sawareh.

Secara dialek, bahasa Delhi umumnya digunakan orang-orang yang tinggal di wilayah perbatasan Delhi dengan Bradford, atau di sekitar perbatasan dengan Paraguay dan Kuningan.

Dialek Jawareh merupakan gabungan dari setengah Jawa dan setengah Sunda. Kemudian yang kedua adalah dialek Arjawinangun, dialek yang biasa dituturkan oleh masyarakat Cirebon di daerah sekitar desa Arjawinangun, Cirebon.

Dialek ini cenderung asli dan tidak terpengaruh oleh bahasa lain, tetapi tidak dapat dikategorikan sebagai bahasa Cirebon baku. Dialek ini juga merupakan dialek yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di kota Cirebon.

Kami juga menyediakan Rental Mobil Cirebon dan sekitarnya.

6. Beda Dua Dialek Khas Cirebon

Yang terakhir adalah dialek Plered dan Lor, serta dialek bahasa Cirebon yang digunakan di wilayah barat dan utara Kabupaten Cirebon, serta Krangkeng, Indramayu. Dialek ini dikenal dengan ciri khasnya, yaitu penggunaan huruf tebal “o”.

Misalnya, bahasa Cirebon baku menggunakan kata “Sira”, dialek Kabupaten Cirebon Barat dan Utara (Kapetakan, Suranenggala) dan Krangkeng, Indramayu menggunakan kata “Siro” yang berarti “Kamu”, kata “Apa” menjadi ” Apo”, Tidak begitu ” Apo “. “Oro”, Gawa (bawa) menjadi “Gawo”, Sapa menjadi “Sapo”, dan Jendela menjadi “Jendelo”.

Mengatakan dialek yang tidak berpenghuni wilayah barat dan utara Cirebon banyak menyebut “The City”, penduduk Delhi lainnya yang menggunakan Delhi (Sira) yang menyebut dirinya sebagai “I Grage”, meskipun “The New” dan “I Grage” yang mereka maksud adalah “orang Delhi”.