Aqiqah adalah ibadah yang bertujuan untuk rasa syukur kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas dititipkan seorang anak ke dunia. Hukum aqiqah menurut pendapat para ulama yang paling kuat adalah sunah muakkad dan ini adalah pendapat jumhur ulama menurut hadits.

Para ulama sepakat bahwa yang disunnahkan dalam menyembelih hewan aqiqah adalah pada hari ketujuh, yaitu ketika seorang bayi telah berusia tujuh hari, terhitung sejak dia lahir pertama kali di dunia ini.

Didapat dari beberapa hadits berikut ini:

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Anak laki-laki tergadaikan dengan hewan aqiqahnya, maka disembelihkan untuknya pada hari ke tujuh, diberi nama lalu digunduli. (HR. Abu Daud).

Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Rasulullah shallahu alaihi wassalam menyembelihkan hewan aqiqah untuk Hasan dan Husain alaihissalam pada hari ketujuh dan memberi nama keduanya. (HR. Al-Baihaqi).

A. Sebelum dan Sesudahnya

Namun para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidak bolehnya menyembelih aqiqah bila waktunya bukan pada hari ketujuh.

1. Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah menetapkan bahwa waktu untuk menyembelih hewan aqiqah hanya pada hari ketujuh saja. Di luar waktu itu, baik sebelumnya atau pun sesudahnya, menurut mazhab ini tidak lagi disyariatkan penyembelihan. Artinya hanya sah dilakukan pada hari ketujuh saja.

2. Asy-Syafi’iyah

Pendapat mazhab Asy-Syafi’iyah lebih luas, karena mereka membolehkan aqiqah disembelih meski belum masuk hari ketujuh. Dan mereka pun membolehkan disembelihkan aqiqah meski waktunya sudah lewat dari hari ketujuh.

Dalam pandangan mazhab ini, menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh adalah waktu ikhtiyar. Maksudnya waktu yang sebaiknya dipilih. Namun seandainya tidak ada pilihan, maka boleh dilakukan kapan saja. Jasa Aqiqah.

3. Al-Hanabilah

Mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa bila seorang ayah tidak mampu menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran bayinya, maka dia masih dibolehkan untuk menyembelihnya pada hari keempat-belas.

Dan bila pada hari keempat-belasnya juga tidak mampu melakukannya, maka boleh dikerjakan pada hari kedua-puluh satu.

B. Waktu Penyembelihan

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan yang utama dilakukan penyembelihan hewan aqiqah.

Sebagian ada yang mengqiyaskan dengan jam penyembelihan hewan udhiyah, yaitu pada waktu Dhuha. Sebagian lainnya ada yang mengatakan bahwa lebih utama dikerjakan pada saat matahari terbit.

Dan sebagian yang lain tidak terlalu mempermasalahkan tentang jam penyembelihan. Dalam pandangan mereka, hewan aqiqah silahkan dibolehkan dilakukan pagi hari di waktu Dhuha, siang, sore bahkan malam hari sekali pun juga boleh.